Hari itu Madinah Cerah, tapi sebuah wilayah perkampungan di Khazraj terasa hiruk pikuk, karena rupanya ada seseorang yang meninggal dunia. Namanya 'Abdullah Bin Ubay. Ketika 'Abdullah Bin ubay meninggal dunia, dmeikian "Umar bercerita pada 'Abdullah Ibn 'abbas seperti terekam dalam musnad Ahmad, "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wasalam dimintai kesediaan untuk mensahalatkan jenazahnya. ketika yang memohon adalah kawan-kawan 'Abdullah ibn Ubay yang munafik, Rasulullah hanya diam. Mungkin beliau menanti izin Allah. Namun ketika putra si Mayit, 'Abdullah ibn "abdillah datang, beliau segera menyanggupi.
Pada saat beliau hendak memulai shalat, Umar menghalangi Rasulullah dan berdiri didepannya seraya berakata " Wahai Rasulullah, apakah engkau hendak shalat untuk jenazah musuhmu, yaitu 'Abdullah ibn Ubay ibn Salul, yang pernah berkata, "Jika kita kembali ke Madinah , orang mulia pasti akan mengeluarkan orang yang hina!"? Ingatlah bahwa dia juga yang menyebar fitnah dusta tentang Aisyah dan keluargamu tercinta! Ingatlah bahwa dia juga yang pernah menghasut Anshar untuk tak menolong Muhajirin agar mereka pergi! Ingatlah bahwa dia yang mengolok-olok Allah, Kitaba, dan RasulNya, serta mendirikan Masjid Dhirar! Ingatlah bahwa dia yang membocorkan rahasia kepada musuh dan membelot lari ketika berperang!
Umar dengan geram menyebut segala kejahatan 'Abdullah ibn Ubay. Mendengar penuturan umar Rasulullah hanya tersenyum. Beliau tetap hendak memulai takbir, ketika umar bersikukuh menyatakan keberatannya, beliau berkata " Mundurlah hai 'Umar Aku telah diberi pilihan, dan aku sudah menetapkan pilihanku (Q.S . At-Taubah : 80).
"Hai 'Umar", lanjut rasulullah " Seandainya aku tahu bahwa jika aku memohon ampunan lebih dari tujuh puluh kali untuknya, maka Allah akan mengampuni, niscaya pasti kulakukan."
Lalu Rasulullah tetap melakukan shalat jenazah, mengantarnya, dan berdiri memberi penghormatan didekat kuburnya hingga usai. Umar takjub pada kemuliaan akhlak Rasulullah da kejelian beliau untuk berbuat lebih dari pada apa yang diisyaratkan oleh Allah. Pantaslah jika Allah sendiri memuji beliau, "Sesungguhnya Engkau hai Muhammad, berada di atas suatu akhlak yang agung"
"Setelah peristwa ini", kata " Umar melanjutkan cerita, " Aku sangat terkejut atas sikap dan kelancanganku kepada Rasulullah SAW dalam kejadian itu, padahal Allah dan RasulNya lebih mengetahui hakikat masalahnya."
Tetapi demikian pulalah Umar yang agung, yang disebut Sang Nabi sebagai muhaddats, orang yang mendapat ilham dari Allah. Setelah memberikan kesempatan kepada NabiNya untuk mensholatkan 'Abdullah ibn Ubay, Allah menurunkan firmanNya yang membenarkan pendirian 'Umar ibn al-Khattab. (Q.S. At-Taubah : 84)
Disalin ualng dari buku "Dalam Dekapan Ukhuwah" By Ustad Salim A. fillah

0 komentar:
Post a Comment